PALU – Upaya meningkatkan kompetensi guru dalam memahami perkembangan emosional siswa terus dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Diseminasi Hasil Penelitian dengan topik “Penguatan Kompetensi Guru SD dalam Literasi Emosi dan Regulasi Emosi sebagai Fondasi Peningkatan Motivasi Berprestasi Siswa.”
Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 tersebut bertempat di SD Imanuel Kota Palu, dengan melibatkan tim pengabdi yang terdiri atas Jane Mariem Monepa, M.Psi., Psikolog, selaku ketua tim; Dr. Muthia Aryuni, M.Psi., Psikolog; dr. I Putu Fery Immanuel White, Sp.OG; serta Mayabi Pratika, S.Si., M.Biomed.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan guru sekolah dasar dalam mengenali, memahami, serta membantu siswa mengelola emosi secara tepat. Kompetensi tersebut dinilai penting karena perkembangan emosional anak memiliki keterkaitan erat dengan proses pembelajaran, interaksi sosial, kepercayaan diri, dan motivasi untuk meraih prestasi.
Dalam lingkungan sekolah, guru tidak hanya berperan menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi salah satu pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa dalam menghadapi berbagai situasi emosional. Oleh karena itu, kemampuan guru mengenali kondisi emosi siswa menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak.
Literasi emosi membantu guru memahami berbagai bentuk emosi yang dialami siswa, seperti rasa senang, sedih, takut, kecewa, maupun marah. Sementara itu, regulasi emosi berkaitan dengan kemampuan mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Melalui penguatan kedua aspek tersebut, guru diharapkan dapat lebih peka terhadap kebutuhan emosional siswa, termasuk ketika mereka mengalami kesulitan belajar, menghadapi kegagalan, merasa kurang percaya diri, atau kehilangan semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Ketua Tim Pengabdi, Jane Mariem Monepa, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa literasi emosi dan regulasi emosi merupakan aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap guru, khususnya di tingkat sekolah dasar. Menurutnya, kemampuan memahami emosi bukan hanya membantu siswa mengenali perasaan yang dialami, tetapi juga mendukung mereka dalam menghadapi tantangan belajar dan membangun motivasi untuk meraih prestasi.
“Guru memiliki peran strategis dalam mendampingi perkembangan anak, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari aspek emosional. Ketika guru mampu mengenali dan memahami emosi siswa, mereka dapat memberikan respons yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Hal ini penting agar siswa merasa aman, dihargai, dan memperoleh dukungan dalam proses belajarnya,” ujar Jane.
Pendekatan ini juga menjadi fondasi untuk menumbuhkan motivasi berprestasi siswa. Anak yang memperoleh dukungan emosional secara tepat diharapkan lebih mampu menghadapi tantangan, membangun keyakinan terhadap kemampuan dirinya, serta mengembangkan sikap pantang menyerah dalam mencapai tujuan belajar.
Selain itu, pemahaman mengenai literasi dan regulasi emosi dapat membantu guru membangun komunikasi yang lebih positif dengan siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan karakter dan keterampilan emosional anak.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi salah satu bentuk penerapan dan diseminasi hasil penelitian kepada lingkungan pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi guru untuk mengintegrasikan pendekatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional siswa dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Melalui kegiatan di SD Imanuel Kota Palu ini, penguatan kompetensi guru dalam literasi emosi dan regulasi emosi diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih positif, sekaligus membantu siswa mengembangkan potensi diri dan meningkatkan motivasi berprestasi sejak usia sekolah dasar.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar memahami diri, mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan mengembangkan semangat untuk terus berprestasi. (Redaksi)












