Palu – (21/12/2025) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (GMNI FEB-UNTAD) mengangkat program dengan Konsep All Blue dari One Piece, program ini di kemas dalam bentuk Proyek Sosial pada masa bakti Tahun 2025 s/d 2026 dengan tema “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam”.
Untuk diketahui Ekonomi biru adalah pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan lapangan kerja, sambil tetap menjaga kesehatan ekosistem laut. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak merusak modal alam (laut) yang menjadi tumpuannya. Dalam buku “The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs”, Karya Gunter Pauli (yang dianggap sebagai bapak ekonomi biru) mendefinisikan konsep ini sebagai evolusi dari Ekonomi Hijau. Menurutnya, ekonomi biru adalah sistem yang meniru ekosistem alam untuk mencapai efisiensi maksimal, tanpa limbah (zero waste), dan menggunakan apa yang tersedia secara lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan modal sosial.
GMNI FEB-UNTAD juga melaksanakan Kuliah Umum pada Rabu, 3 Desember 2025 yang dibawahkan oleh Bapak Failur Rahman selaku Dosen IESP untuk menambah kapasitas anggota dalam memahami konsep Ekonomi Biru, “tujuan utama ekonomi biru adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor-sektor kelautan, seperti perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut, dan energi terbarukan (seperti energi gelombang atau angin laut) secara berkelanjutan.” Ujar Bapak Failur Rahman.
Sementara itu Sekretaris GMNI FEB-UNTAD saudara Darent Azareal menjelaskan dalam materinya di PPAB GMNI FEB-UNTAD yang ke-3 tentang Pengantar Ekonomi Biru bahwasanya GMNI akan jadikan Program ini sebagai fokus utama untuk memastikan aktivitas ekonomi di laut dan mendalami marhaenisme dari perspektif nelayan kecil. “Target GMNI FEB-UNTAD memastikan bahwa aktivitas ekonomi di laut tidak merusak sumber daya, dan dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang, serta membedah ajaran marhaenisme dari perspektif nelayan dan melihat dampak dari Ekonomi Biru itu sendiri bagi nelayan kecil.” Ujarnya.





