Praktisi Hukum Morowali, IDI Butuh Berapa Mayat Bayi Lagi Agar Turun Tangan Dikasus Kematian Bayi Ibu Ramdani?

Praktisi hukum morowali ABDUL MALIK.SH.MH Kembali dibuat geram dengan sikap IDI yang masih stecu alias diam setelah 13 hari pasca meninggalnya bayi ibu Ramdani yang di duga atas kelalaian Dokter (22/11/25). Padahal hampir semua stake holder diberbagai lapisandan Pemerintahan di Morowali sudah turun tangan, Baik Dari Bupati, DPRD Morowali dan Polres Morowali, Namun ada satu organisasi penting yang sampai saat ini tak kunjung memberi tanggapan bahkan sekedar mengucapkan bela sungkawa Tak dilakukan, Yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) baik dari tingkat Pusat maupun tingkat Kabupaten.

IDI adalah organisasi profesi kedokteran yang bertugas menaungi para dokter bahkan termaksud memberi sanksi kepada dokter sebab di samping dibentuk karna perintah Undang-undang, juga Lembaga yang menyidangkan pelanggaran dokter yakni MKEK (Mejelis Kehormatan Etik Dan Kedokteran) ada dibawah naungan IDI.

Hanya sangat di sayangkan IDI dengan Visi Menciptakan Dokter Indonesia yang beretika ,Mandiri,Profesional, dan Menjunjung Tinggi Kesejawatan serta IDI yang memiliki berbagai kewenangan berdasarkan UU Kesehatan Nomor 17 Tahaun 2023, sampai saat ini belum ada Kontribusi, “ sampai saat ini saya belum mendengar apa tidakan yang dilakukan oleh IDI di Morowali, ataukah IDI menunggu Korban datang dulu mengadu atau membuat Laporan baru mau bertindak. ? Padahal kita tau ibu korban saat ini masih belum sembuh dan pasti masih dibawah tekanan mental.”

Harusnya IDI bernisiatif turun melakukan pemeriksaan internal langsung kepada Dokter yang terlibat bukan hanya menunggu dan acuh.

padahal ini momentum buat IDI berbenah ditengah badai gelombang kritikan dan masukan dari masyarakat agar kedepannya dapat melahirkan dokter-dokter yang profesional.

“Saya heran IDI ini hanya bersuara saat ada dokter yang di Proses Hukum, kalau sudah ada dokter yang sudah tersangka tanpa melihat salah atau benar, IDI segara bersuara dan membuat solidaritas seolah-olah menjadi korban Kriminalisasi Profesi,  Tapi saat Masyarakat ada yang jadi Korban Dugaan Malpraktek, IDI pun seolah menghilang.” “kalau begni terus jangan salahkan kalau Masyarakat Berfikir IDI hanya di jadikan wadah dan alat untuk berlindung oknum dokter yang salah.”

Pengacara sekaligus Aktifis yang peduli dengan isu-isu Morowali ini pun meminta agar semua kalangan tetap konsisten menyuarakan keadilan untuk ibu ramdani agar kejadian yang sama tidak terulang kepada Ibu-ibu hamil yang lain, bahkan meminta kepada Pemerintah,Aktivis dan Mahasiswa ikut ambil bagian agar masalah ini segera sampai kepada Menteri Kesehatan dan Presiden.

“Sebenarnya IDI Butuh Berapa Mayat Bayi lagi di Morowali supaya mau Responsif dan Turun Tangan Mengevaluasi Dokter di Morowali.? Padahal sudah banyak Korban, hampir bersamaan di Jayapura Ibu Irene Sokoy dan bayinya juga meninggal setelah ditolak oleh 4 rumah sakit untuk melahirkan.”

Dari pantauan Media, IDI Cabang Morowali berkantor atau bersekretariat di RSUD Morowali Bungku. Tempat dimana ibu Ramdani yang mengandung bayi dengan Berat 4,1  Kg di paksa Melahirkan Normal di Puskesmas, Makin menguatkan dugaan Upaya IDI untuk saling melindungi sesame Profesi.